Layanan Tashih Online

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia
REGISTRASI

HOME/INFO SEPUTAR LAJNAH

Kepala LPMQ: Tularkan Virus Baik Kajian Al-Qur’an!

LAYANAN TASHIH ONLINE LPMQ | LAYANAN TASHIH ONLINE LPMQ | 06 Febuari 2019, 11:23

Dalam dua tahun terakhir Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI terlihat fokus dalam hal kajian terkait Al-Qur’an. Dalam dua tahun tersebut, selain kajian penyempurnaan terjemahan Al-Qur'an Kemenag, LPMQ juga telah mengadakan kajian dan penyempurnaan terhadap Mushaf Standar Indonesia (MSI). Tujuan kegiatan penyempurnaan dan kajian terhadap MSI, menurut Kepala LPMQ, selain meningkatkan kompetensi para pentashih dalam bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an, LPMQ juga ingin membangun tradisi intelektual terkait dengan keilmuan seputar rasm, dabt serta waqf dan ibtida’.

Kepala LPMQ, Muchlis M Hanafi, dalam sambutan dan arahannya saat membuka Sidang Reguler Pentashihan pertama di Bekasi (30/1) mengatakan bahwa kajian seputar rasm mushaf Al-Qur’an, dabt serta waqf dan ibtida’ belum berkembang di Indonesia. Oleh sebab itu, Kepala Lajnah berharap LPMQ dapat lebih membangun serta menjaga tradisi keilmuan ini. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, bisa dikatakan tertinggal dalam mengembangkan ilmu-ilmu ini.

“Kita tahu bagaimana di Perguruan Tinggi Islam, ilmu-ilmu terkait rasm, dabt, waqf ibtida’ dan qiraat tidak berkembang. Begitu juga di pesantren-pesantren, qiraatnya berkembang, tapi keilmuan tentang qiraat tidak dikembangkan, apalagi tentang rasm, dabt, waqf-ibtida’, belum dikembangkan. Kalau Kiai Ahsin mengatakan mestinya seorang hafiz yang mendalami ilmu qiraat, dia harus tahu tentang rasm, dabt dan waqf ibtida’,” kata Muchlis di hadapan para peserta sidang.

Muchlis menambahkan, setelah membangun tradisi itu dari LPMQ, secara perlahan LPMQ harus menularkan virus baik tersebut ke kampus-kampus Perguruan Tinggi Islam dan pesantren-pesantren. Dirinya bersyukur, setiap LPMQ melakukan kegiatan pembinaan, kampus dan pesantren mulai terbuka tentang pentingnya menghidupkan kembali ilmu-ilmu ini. (sumber:https://lajnah.kemenag.go.id)